Catatan-Catatan Setelah “Two Bodies”
- studiopatodongi
- Jul 14, 2020
- 2 min read

Panggung tidak sepenuhnya gelap. Cahaya menyisir kulit panggung melalui kaca dari belakang. Di antara penonton, saya duduk menunggu satu persatu tubuh menjadi gerak atau tubuh menjadi kata, atau sebaliknya, atau keduanya.
Sepuluh lebih perempuan berjalan menuju cahaya yang pelan-pelan datang. Dua di antaranya menanam bayi lain di dalam perutnya.
Suara dari tubuh mereka saling menyusun jadi lapisan-lapisan rima yang padat. Musik terbuat dari lidah dan bibir mereka. Sesekali diselingi tepuk tangan dari sudut-sudut yang tak terduga, tapi semuanya terbaca.
Sekitar tujuh sampai sepuluh menit, satu persatu dari mereka saling menyilang, menggunakan telapak kaki mereka masing-masing. Kaki-kaki melangkah ke depan dan ke belakang, menganyam diri sendiri.
Lalu mereka keluar dari garis panggung yang telah disepakati. Meninggalkan dua orang hamil. Seorang perempuan berbaju hitam, rambutnya berwarna senja tergerai sampai punggung. Saya masih ingat ketika angin menyelip di sela-selanya. Dan panggung kembali kehilangan cahayanya.
Perempuan hamil yang lain berdiri di pojok panggung, mendekati tas berisi identitas-identitas atau riwayat-riwayat yang ingin ia kenakan. Ia lalu membuka dressnya, hanya menyisakan bra dan celana dalam.
Ia membuka tas, memilih baju lalu mengenakannya. Satu, dua, tiga, ia lepas kemudian. Ia memilah celana lalu ia masukkan di antara kedua pahanya. Tapi lagi-lagi ia tanggalkan. Tubuhnya mengembang, ia mulai merasa mulai dibesarkan oleh bayi yang ada dalam kandungannya.
Gerakan-gerakannya mulai menghadirkan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala saya. Memangnya apa bedanya perempuan yang telanjang dengan ketelanjangan perempuan? Tak ada jawaban.
Lalu ia memutuskan pilihannya pada baju dan celana yang pas pada tubuhnya. Ia mengenakan kenyamanan sebelum kembali di bawah cahaya.
Sebuah meja di dekat penonton, yang sedari tadi menunggu perannya dimainkan, diangkat dan diletakkan di sudut panggung. Ia menghidupkan kipas angin seolah mengundang udara datang. Mungkin bayinya sedang kepanasan dan butuh sesuatu untuk mendinginkannya. Lalu ia menyanyi setelah meminum susu, memberi makan kehidupan di dalam tubuhnya.
Dan panggung terbuat dari tarian dua perempuan hamil. Saya saksikan, mereka berusaha bicara dengan tubuh sendiri. Mereka merespon ruang, menggerakkan tubuhnya untuk diam dan berulang-ulang menantang diri sendiri. Mereka tidak lagi membiarkan pikirannya yang berpikir, tetapi mereka merelakan tubuhnya yang berpikir.
Mereka orang asing — dalam ingatan saya, tetapi mereka punya kemampuan untuk berdansa dengan anak-anak mereka, jauh sebelum anak-anaknya dilahirkan. Seperti ada cinta yang jatuh dari semua yang tak terlihat. Tapi, pernakah kau mencintai seseorang yang belum kau temui?
Salah satu dari mereka meninggalkan tubuh lain. Kemudian lagu dimainkan. Cahaya dibiarkan terbuka supaya kegelapan tidak sepenuhnya menguasai.
Di akhir peristiwa, semua perempuan kembali ke panggung membawa beberapa anak kecil setelah memberi permen ke semua penonton. Lalu nada-nada yang membuka semua pertunjukan ini kembali didengungkan. Suara mereka masuk ke dalam kepala saya. Suara-suara itu saya ceritakan padamu dalam bentuk kata.
Tapi, lagi-lagi saya sadari bahwa semua yang saya pikirkan selama pertunjukan adalah tidak semua yang bisa saya tuliskan. Kadangkala saya pikir pengalaman audio-visual tadi biarlah tinggal dalam ingatan — yang pelan-pelang menghilang. Tapi saya percaya tidak bisa tidur kalau belum menuliskannya dalam catatan-catatan kecil seperti ini. Namun lebih dari itu, barangkali saya hanya sok tahu.
***
Two Bodies (Ada Tubuh yang Tumbuh Di Dalam Tubuhku)
Karya kolaborasi Fitri Setyaningsih X Safina Nadisa
Didukung 10++ perempuan
Gandhi Asta (Musisi)
Alvin Ardian (Dokumentasi)
Joko Jazz (Lighting)
Lokasi pertunjukan: Rumah Banjarsari

Comments